|
Menerima suratmu tiba-tiba aku lupa, harus apa dan bagaimana. di
mataku semuanya abu-abu jalan-jalan buntu. sementara malam berjelaga orang-orang mulai sanksi, berubah menjadi tetangga
yang selalu curiga bila sudah begini, impian terkurung di dunia kecil. aku tersaruk dan sakit-sakitan menahan hentakan
luka di dada. nasib berulang dalam lingkaran pendek putus asa dan rindu pulang. padahal di seberang sana: nun jauh
di kedalaman batin aku mengerang, menggapai bayang-bayang cahaya tenggelam di rimbunan gelap. aku lupa, mesti apa
dan bagaimana surat-surat yang kuterima semuanya mengabarkan luka
|